Kamis, 23 April 2015

Persamaan (yang) tak Pernah Sama

Human is a unique creatures ( manusia adalah mahkluk yang unik ). Banyak yang mengatakan tingkat kecerdasan seseorang dilihat dari apa yang dilakukannya sehari hari, seperti kedisisilpinan, kerapian berpakaian, hingga tindak tanduk termasuk cara ngomongnya.  Sadarkah kita? Siapa yang berhak untuk menciptakan pola bahwa manusia seperti itu? Apakah kita tidak mengaburkan kodrat bahwa manusia adalah seutuhnya apa yang ia lakukan sesuai dengan apa yang ia rasakan?

Menyingkap tabir pemahaman dewasa ini yang terlalu kaku, rigid dan terbentuk menjadi pola-pola tertentu misalkan terjajahnya pemikiran manusia karena doktrin-doktrin awaupun pakem yang seharusnya bisa dilakukan. Bicara pemahaman tentang bagaimana menjadi manusia, mari kita tilik tujuan sebenarnya pendidikan itu seperti apa? Tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia. Dari yang belum tau menjadi tau, dari yang belum bisa menjadi bisa. Sederhana sekali jika kita menelanjangi hanya sebatas tekstualnya saja. Karena pada dasarnya manusia dibekali dengan 3 jenis kesadaran. Yaitu kesadaran dengan diri sendiri disebut dengan kesadaran naif. Kesadaran dengan lingkungan sekitar disebut dengan kesdaran kritis, lalu kesadaran tentang pemahaman semesta yang berkaitan dengan holistik atau ketuhanan disebut kesdadaran magis. Tiga konsep dasar kesadaran yang sebagai bentuk universal pola manusia dalam konteks kesadaran.

Sebuah Drama dalam Imaji

 

 

 

 

i stand

 

Bicara tentang hidup, semua orang sedang melaluinya. Hanya saja pengalaman dan umur tentu menjadi pembeda dari warna yang diciptakan atau dilaluinya. Mungkin jika umur masih tergolong muda kisaran 15-25 tahun masih kalah pengalaman dengan yang berumur lebih di atasnya.

 

Tapi, jika melihat dari pengalaman, tentu yang dilihat bukan sekedar usia ataupun ketenaran semata. Skill ataupun kehalian menjadi bahan pertimbangan untuk mengecap orang tersebut pemgalaman di bidang tertentu yang sedang digelutinya. Kemudian, ada semacam track record . agak mirip dengan pengalaman. Tapi hal ini lebih mencondongkan kepada hasil ataupun prestasi yang pernah diraih.

Pemikiran di Era Sosial Media

Revolusi dunia sosial media, menjadi alat pemegang daulat opini, entah itu mainstream atau antimaintstream. Seperti layaknya pro-kontra, kontra – anti-kontra dan sebagainya. Mengambil dari ilmu muka wajah mata uang logam. Meskipun satu, tapi terdiri dari dua sisi. Dalam kehidupan nyata, sebut saja sisi jahat / buruk dan sisi baik / bagus. Kita perlu memutuskan mau menjadi apa tergantung dri kita sendiri yang memutuskan dengan kepengintan tertentu pastinya. Hal serupa semarak dan beberapa kali bisa kita lihat di saat ramainya pemilu raya kemarin. Ada pihak yang mati-matian melambungkan suatu nama / golongan, dan sebaliknya ada pula yang rela di bully membela pendapat yang mengarah ke suatu nama / golongan.

Dampaknya, banyak akun-akun anonim yang dibuat untuk menggembar-gemborkan komoditas mainstream framming opinion. Banyak hal yang terjadi, mungkin bagi pengguna baru yang penasaran bagaimana dinamika yang ada di twitter akan segera menampakan kernyut di dahi dengan berbagai macam opini yang terus menerus dibangun secara terstruktur dan masif.
 

Membuat 'Rasa'

How to Make A Sense ?

 
Membangun rasa, dalam artian sempitnya adalah membangun rasa saling memiliki satu sama lain, entah itu ada dalam ikatan berupa Dhahir (lahir / nampak) maupun ikatan secara Ghaib (tak nampak). Dalam kalangan muda-mudi, membangun rasa atau lebih populernya chemistry seringkali dikaitkan dengan adanya persamaan entah itu hobi, perasaan ataupun kesukaan lainnya pokoknya ada sesuatu yang sama.

The Paradox Law, mengajarkan kita sejatinya yang tak cocok / berbeda bahkan bertolak belakangpun bisa untuk saling beriringan sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing. Sama halnya dengan muatan listrik negatif dan positif. Jika dipadukan akan menghasilkan lompatan ion berupa tenaga listrik yang dihadilkan serta bermanfaat untuk semua orang. Hal ini sudah lama sebelum Thomas Alfa Edison membuat lampu pijar pertama kali dengan menggunakan kain kasa sebagai alat percobaannya dulu. 

Behind The World Book Day ( Dibalik Hari Buku Sedunia )


Pena lebih tajam daripada pedang,

23 April diperingati sebagai hari buku internasional ( world book day ). Apa yang melandasi sehingga dunia mampu menyepakati World Book Day? mengapa 23 April?

Faktanya, setiap negara di dunia memiliki  tanggalan tersendiri untuk memperingati setiap hari-hari tertentu. Indonesia misalnya, 21 April diperingati sebagai hari Kartini. Kita juga tau kok, yang manghantarkan Kartini menjadi tokoh emansipasi wanita adalah lewat tulisan pula. Meskipun dibantu Max Haveelar dengan tulisannya yang diberi judul “Habis Gelap, Terbitlah Terang”.

Landasan peringatan hari buku internasional salah satunya ialah ada sebuah karya dari seseorang yang merupakan tokoh besar dan mampu menginspirasi banyak orang. Berikut adalah orang-orang yang mempengaruhi 23 April sebagai Hari Buku Sedunia  :


Platform Belajar Online : Persiapan PSTS Genap IPS Fase D

Latihan Soal IPS Fase D - PTS ...