Wayang kulit termasuk karya kebudayaan dalam bidang cerita narasi yang indah dan berharga lagi mengagumkan (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). UNESCO sudah sejak 7 Nopember 2003 mengakuinya dan secara otomatis, karya kebudayaan ini diakui dimata dunia secara luas.
Pertunjukan wayang kulit berperan penting untuk menyebarkan pesan, sarana sekaligus media edukasi kepada masyarakat tanpa mengenal kelas dan kasta. Setiap alurnya mengandung pesan syarat makna baik tersirat maupun tersurat. Cara penyampaiannya kental dengan kearifan lokal.
Dalang harus menghapal satu persatu watak penokohan wayang yang akan dimainkan. Tentu perlu latihan rutin dan penghayatan spiritual supaya bisa menyatu antara cerita dan makna yang akan disampaikan kepada penonton.
Zaman dulu belum ada televisi atau media sosial. Pertunjukan wayang menggunakan "proyektor" sederhana. Wayang Kulit di sorot dari depan memanfaatkan cahaya lampu. Bayangan hitam - putih menyembul keluar dari sela-sela ukiran indah wayang kulit yang menempel pada layar putih di belakangnya. Dalang mengarahkan geliat wayang dari gagang atau pepet, dan memainkan gesture penokohan lalu menancapkannya ke debogan (pohon pisang). Niaga dan Sinden tak lupa bersamaan memainkan perannya secara harmoni ikuti dinamika alur cerita sang Dalang.